Jumlah Pengunjung

20160812

Renungan " Lidia - Seorang Wanita Karier "


Lidia - Seorang Wanita Karier 
(Kis 16:14-15 dan ayat 40)
14. Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. (15) Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: "Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku." Ia mendesak sampai kami menerimanya. 

 (40) Lalu mereka meninggalkan penjara itu dan pergi ke rumah Lidia; dan setelah bertemu dengan saudara-saudara di situ dan menghiburkan mereka, berangkatlah kedua rasul itu.

Allah membukakan hati (Ayat 14). 
Apa yang sebenarnya di cari oleh manusia di seluruh dunia? Atau mungkin yang lebih spesifik :"Apakah yang engkau cari di dunia ini?" Jika mendadak ada orang yang bertanya kepada kita, pertanyaan tersebut, apa kira - kira jawaban kita?
Menurut majalah Observer : "Everybody wants what feels good. Everyone wants to live a carefree, happy and easy life, to fall in love and have amazing sex and relationships, to look perfect and make money and be popular and well-respected and admired and a total baller to the point that people part like the Red Sea when you walk into the room".

Ketika melihat apa yang ditulis oleh majalah Observer dan mempelajarinya, ternyata bisa lebih dari satu yang kita dambakan. Yang sedang tertekan hidupnya tentu ingin "feels good", yang sedang tidak baik hubungan suami - istri tentu mendambakan "Happy and easy life". Yang merasa kehilangan jati diri, hidup tidak dianggap oleh lingkungannya tentu mendambakan "be popular and well-respected"
Dan masih banyak lagi dan mungkin tidak termasuk yang didaftar oleh majalah Observer.

Yang menjadi pertanyaan penting selanjutnya adalah "Apakah mudah mendapatkan semuanya itu?"
Manusia mengais-ngais hal yang sebenarnya tidak penting, maksudnya bukan hal yang utama! Hal yang sia-sia, akan tetapi manusia dengan berbagai cara untuk mendapatkannya. Akibat dari semuanya itu maka di dunia saat ini ada kurang lebih 4200 agama. Inilah manifestasi manusia untuk mendapatkan hal yang sia-sia? Mungkin banyak orang yang tidak setuju dengan pendapat ini, akan tetapi apapun alasannya, ada satu kebenaran bahwa  begitu banyaknya agama didunia yang timbul dikarenakan agama yang semula ia anut sudah tidak bisa lagi memuaskan dirinya. Kalau sudah puas kan tidak mungkin mencari yang lain?

Jadi dalam hidup kita ini ada demikian banyak pertanyaan, keinginan, ambisi atau yang lainnya, dan ketika kita tidak menemukan cara untuk mendapatkannya, kita menjadi marah, jengkel dan putus asa.
Mengapa kita tidak kembali saja kepada Alkitab? Ya, Alkitab!

Pada Lukas 12:30 dikatakan "Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu."

Untuk lebih jelas tentang arti kehidupan, mari kita telaah bacaan firman Allah hari ini mulai dari Kisah 16:14. Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. 

Lidia adalah seorang wanita kaya, yang mempunyai profesi sebagai penjual kain ungu dari kota Tiatira.
Kota Tiatira terletak di daerah Turki, daerah Asia. Ia seorang wanita Asia yang sukses, meninggalkan berbagai pembatasan di Tiatira untuk mencoba memajukan bisnisnya di Filipi, kota yang lebih terbuka baginya. Filipi terletak di Yunani, dataran Eropa.
Kalau melihat perjalanan dari Lidia, bisa menggambarkan bagaimana seorang wirausaha yang tidak berbeda dengan zaman sekarang. Seorang pebisnis tentu tidak terikat oleh satu wilayah, ia akan mencari daerah yang dapat mendatangkan laba.
Lidia adalah seorang non Yahudi yang pindah agama Yahudi. Ia sembahyang di tempat sembahyang orang Yahudi di tepi sungai bersama dengan para wanita Yahudi lainnya. Mereka nampaknya tidak memiliki sebuah synagog, sehingga mereka pergi ke tempat ini, di tepi sungai itu untuk berdoa pada hari Sabat. Paulus dan rekan-rekannya datang dan berkhotbah kepada sekelompok wanita ini. Dan ayat ini berkata bahwa Lidia "turut mendengarkan." (Kis 16:13 Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di situ.)

Lidia hidup di Tiatira sebuah kota yang merupakan muara pertemuan banyak bangsa. Sifat kosmopolitan daerah itu terbukti dari berbagai nama yang telah ditemukan pada monumen-monumen kuno. Keanekaragaman tersebut juga tercermin dalam kecenderungan daerah itu untuk menjadi tempat pemujaan kepercayaan yang politeis. Objek pemujaan yang terutama ialah Apollo, yang disembah sebagai dewa matahari dengan nama Tirannus, tetapi ia hanyalah satu dari banyak dewa lainnya.  Jadi demikianlah suasana kebudayaan, industri, dan agama di tempat Lidia berasal.
Meskipun demikian, pada suatu ketika Lidia meninggalkan Asia Kecil dan pindah ke Filipi, kota utama di Makedonia (sekarang wilayah Yunani utara), yang jauhnya memerlukan perjalanan dua hari melalui Sungai Aegea dan menyusuri hampir 240 km perjalanan ke arah pantai dari propinsi Lidia—tentunya bukan perjalanan mudah di abad pertama. Alasannya untuk pindah ke Filipi mungkin beragam, tetapi salah satu faktor pemicunya mungkin karena orang-orang di Filipi mempunyai pandangan yang lebih luas tentang hak-hak wanita daripada kebudayaan di Asia Kecil. Alhasil, Lidia mempunyai lebih banyak kebebasan di Filipi daripada di Tiatira, dan luasnya kebebasan inilah yang membuatnya berhasil menjadi pebisnis wanita yang sukses. (Paragraf ini disunting dari buku Sorotan Iman)

Ada suatu pertanyaan dalam kehidupan Lidia ini, bagaimana seorang yang bukan orang Yahudi bisa tertarik dan mengikuti ajaran agama Yahudi. Padahal ia dibesar di dua kota kafir saat itu, baik Tiatira maupun Filipi, kedua-duanya kota modern pada saat itu. Kota Sekuler!
Karena hal ini tidak diungkapkan dalam Alkitab, kita hanya bisa menebaknya dalam sudut pandang manusia yang terbatas ini. Saya pikir mungkin Lidia juga seperti manusia pada umumnya mencari sesuatu yang bisa membawa kebahagiaan, kehidupan yang tenang, dan terbebas dari masalah. Kepercayaan orang-orang sekitarnya terhadap dewa-dewa, tidak membawa Lidia kepada sukacita yang ia cari. Oleh karena itu ia mulai berpindah dengan mengikuti kehidupan orang Yahudi, yang pada hari Sabat berkumpul bersama dan mempelajari Firman Allah. Di sinilah Lidia berlabuh, hatinya mulai terpaut kepada Allah yang Benar, Allah yang patut disembah.
Sampai Akhirnya ia bertemu Paulus dalam sebuah kesempatan. Tuhan membukakan hatinya, sehingga ia menerima dan percaya kepada Kristus sesuai yang diberitakan oleh Paulus.

Proses pencariannya memperoleh hasil, hasil ini diberikan oleh Allah. Allah bekerja dengan ajaib dan tidak terduga. Segala sesuatu Allah lah yang menentukan. Demikian juga pertemuan dengan Paulus, bukanlah suatu kebetulan, semua sudah diatur oleh Allah. Rasul Paulus dihentikan oleh Roh Kudus dari pergi ke Asia yang menjadi salah satu dari provinsi Roma (Kis. 16:6). Ia bermaksud pergi ke Bitinia namun, lagi, Roh Allah menghentikan dia (Kis. 16:7). Kemudian Allah mengirim suatu penglihatan kepada Paulus pada suatu malam, memanggil dia untuk menyeberang ke Makedonia, di Yunani (Kis. 16:9).  "Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana" (Kis. 16:10). 
Kita dapat melihat bagaimana pekerjaan Allah melalui bacaan ini, ajaib dan mengagumkan.

Melihat itu semua, ada satu pelajaran yang menarik. Bahwa segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah. Di dalam penghidupan jika kita diberi kesempatan untuk memberitakan injil dan seseorang menjadi percaya, itu bukan perbuatan atau kehebatan kita, melainkan semuanya adalah pekerjaan Allah. Jadi kita tidak boleh sombong dalam hal ini, seolah-olah kitalah yang hebat sehingga orang tersebut bertobat!
Demikian juga kebalikannya, ketika kita memberitakan Injil, dan tidak satu orangpun yang mau bertobat, kitapun tidak perlu berkecil hati, apalagi putus asa. Karena hal ini pun pekerjaan Allah, karena tidak ada orang yang dibukakan hatinya oleh Dia!  Roma 8:28, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."

Dan ketika kita ada dalam posisi Lidia, yang menerima pelajaran dari Paulus. Apa yang kita peroleh dari pembelajaran ini? Kehidupan Lidia saat itu sebenar tidak berbeda dengan kehidupan sekarang. Berhala yang ada pada saat itu adalah dewa-dewa yang disembah manusia saat itu, sedangkan 
Berhala saat ini tersamar tapi tetap disembah dalam hati, didambakan dalam hati, seperti kekayaan, jabatan, penghargaan diri dlsbnya. Nah untuk hal-hal itu, apakah kita tetap sibuk dengan hal-hal pencapaian dunia, dan hal-hal duniawi lainnya? Apakah ketika kita duduk dalam Gereja benar-benar hati kita siap dibukakan oleh Allah? Atau hanya duduk diam dan sedikitpun tidak mau mengerti apa yang di Khotbahkan atau yang di ajarkan? Karena hati kita tertutup untuk Firman Allah? Kita bergereja hanya sekedar ke Gereja, tanpa mengerti kenapa kita ke Gereja, dan untuk apa ke Gereja?
Disinilah kita harus hati-hati, kita harus belajar dari Lidia. Jangan sampai terlambat! Ada sebuah konsekuensi yang harus kita bayar ketika kita mengaku sebagai orang Kristen! Yaitu bagaimana mungkin kita mengaku sebagai orang Kristen tetapi tidak mengenalNya. Kalau kita mengenalNya tentu kita akan mengikuti firmanNya. Bagaimana kita mengikuti firmanNya, sedangkan kita tidak pernah membaca firmanNya!
Yohanes 8:55 padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya.

Respon Manusia
Ayat 15 Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: "Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku." Ia mendesak sampai kami menerimanya

Lidia mengaku percaya, kemudian ia meminta ketegasan kepada Rasul Paulus tentang kebenarannya bahwa ia telah percaya. Ia pun berubah seketika, hati yang penuh sukacita itu ia bagikan kepada sesamanya.
Rasa syukur kepada Kristus mendorong Lidia untuk melakukan sesuatu bagi nama- Nya. Ia membujuk Paulus dan para pengikutnya untuk tinggal di rumahnya dan mengizinkannya untuk melayani dan menolong mereka. Dengan melakukan hal ini, ia menunjukkan sesuatu yang sering kali dianjurkan Alkitab kepada kita: kemurahan hati untuk menerima orang di rumah kita.
• Peliharalah kasih persaudaraan! Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat (Ibr. 13:1-2). 
• Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (Ef. 4:32). 
• Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! (Rm. 12:13). 
• Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat. 25:40).
Inilah yang diperbuat oleh Lidia.

Bagaimana dengan diri kita yang telah mengaku percaya kepada Kristus? Perubahan apa yang telah kita lakukan? 
Ketika melihat perubahan yang terjadi pada Lidia, ada satu pelajaran yang menarik yang dapat kita ambil yaitu jika asumsi saya benar bahwa Lidia berpindah agama karena mencari sesuatu yang ia dambakan atau inginkan, ini berarti yang menjadi subjek adalah dirinya sendiri. Demikian juga tentang adanya begitu banyak agama di dunia seperti yang disebut di atas, ini juga besar kemungkinan hanya sekedar mencari Allah untuk memenuhi kebutuhan diri manusia. Manusianya yang menjadi Subjek sedangkan Allah hanyalah objek. Kita semua menjalankan agama kita hanya sebatas Mythical Literal faith (menurut James Fowler), artinya secara bebas bisa diartikan bahwa kita beriman kepada Allah karena takut dikutuk, takut tidak dapat rejeki, takut masuk neraka, takut usaha kita mandek, atau kita beriman kepada Allah karena ingin disembuhkan dari penyakit berat, ingin tambah sukses. Jadi kalau disimpulkan semuanya berpusat pada diri kita sendiri, dan Allah tanpa sadar adalah pesuruh kita.
Inilah yang tidak boleh terjadi! Lidia berubah seketika, dirinya bukan  menjadi subjeknya, ketika ia mendengar tentang Yesus yang diajarkan Paulus, ia merasa ada yang lebih berharga daripada kekayaannya yaitu Kasih Anugerah Allah. Ia pasti mengerti arti pengorbanan Kristus di Kayu Salib.
Inilah yang harusnya kita lakukan seperti Lidia.
Ingatkah ketika kita pertama kali menyatakan percaya kepada Kristus, apa yang kita rasakan? Apakah ada perasaan yang luar biasa yang masuk kedalam hati kita, sehingga kita mau dibaptis?
Mengapa hal yang baik itu kita lupakan dengan berjalannya waktu! Kita kembali hidup tidak beda dengan sebelum menerima Kristus? Ini disebabkan hati kita tertutup untuk Roh Kudus yang mengubahkan.

Haruslah kita waspada, sungguh jangan dianggap sepele! Karena itu berarti kita tidak memahami kebenaran yang paling sederhana tentang Injil. Ada sesuatu yang gelap dan Setan yang membutakan mata kita. Paulus sendiri mengatakan bahwa ini benar, "Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah" (II Korintus 4:3-4). 
Sungguh mengerikan dan menyedihkan. Segeralah bersujud di kaki Yesus, mohon pertolongan kepada Nya agar diberikan Roh Kudus untuk melepaskan belenggu dosa dalam kehidupan kita. 
Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus" (II Korintus 4:6). 

Kesetiaan
Ayat 40 Lalu mereka meninggalkan penjara itu dan pergi ke rumah Lidia; dan setelah bertemu dengan saudara-saudara di situ dan menghiburkan mereka, berangkatlah kedua rasul itu.

Sebelum masuk kepada ayat 40, ada baiknya kita membaca juga ayat sebelumnya yaitu dari Kis 16: 16-39 yang menceritakan perjalanan Paulus selanjutnya, kemudian dipenjara dan dibebaskan oleh Allah dengan ajaib! Segera setelah bebas, Paulus dan Silas kembali kerumah Lidia. Rumah Lidia sekarang sudah merupakan tempat berkumpulnya orang-orang percaya baru.

Dari ayat 40 ini kita juga dapat belajar banyak, perubahan yang terjadi pada Lidia berlangsung terus dan makin meningkat. Iman Lidia tidak stagnan melainkan tumbuh. Bagaimana dengan diri kita masing-masing?
Mari kita periksa diri kita masing-masing, sudah berapa tahun kita dibaptis, dan mengaku percaya kepada Kristus? Lalu bagaimana dengan perjalanan iman kita? Berubahkah? Makin bertumbuh, atau dari dulu yang begitu-begitu saja?
Memeriksanya mudah sekali untuk membuktikan apakah iman kita bertumbuh atau tidak. Kala kesusahan, himpitan hidup atau beban/ pergumulan hidup yang terasa tidak habis-habisnya datang menerpa, bagaimana sikap kita kepada Kristus? 
Kehidupan kita di Gereja apakah berubah atau mandek? Sehingga orang akan mengatakan, memang dari dulu sifatnya begitu! Sejak muda, saya kenal dia, dia orangnya mudah tersinggung, atau dari dulu memang dia egois, mau menang sendiri, pendapatnya jangan ditentang dlsbnya! 
Hati-hati! Ini ciri-ciri iman yang mandek. Kalau iman kita mandek, apakah masih dapat dikatakan kita benar-benar percaya kepada Kristus?
Yakobus 2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

Kesimpulan:
Jadikanlah Allah menjadi Subjek dari segala aspek kehidupan, dan kita yang menjadi objeknya, jangan dibalik. 
Yakobus 1 : (22) Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. (23) Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. (24)Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. (25) Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Bogor, 12 Agustus 2016
Luki F. Hardian












20160708

Miryam - Sang Saudara Perempuan


MIRYAM - Sang Saudara Perempuan (Kel 2:4-10 ; Bil 12 : 1-10)

Keluaran 2:4-10
2:4 kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia. 2:5 Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya. 2:6 Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: "Tentulah ini bayi orang Ibrani. " 2:7 Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?" 2:8 Sahut puteri Firaun kepadanya: "Baiklah." Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. 2:9 Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: "Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu." Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya. 2:10 Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: "Karena aku telah menariknya dari air."

 Pemberontakan Miryam dan Harun
(1) Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. (2) Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN. (3) Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. (4) Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga. (5) Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. (6) Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. (7) Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. (8) Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?" (9) Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia. (10) Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!


Permulaan Pelayanan ( Kel 2:4-6)

Berdasarkan tema yang telah ditentukan oleh Gereja Kristus Bogor, untuk pertemuan wilayah bulan Juli 2016 yaitu Miryam- Sang Saudara Perempuan. Maka renungan kali ini tidak membicarakan tentang Musa, melainkan tentang Miryam- sang saudara perempuan dari Musa. Akan tetapi jika membahas hanya dari Keluaran 2:4-10 saja rasanya kurang lengkap untuk menggambarkan bagaimana hubungan antara Miryam dengan Musa untuk waktu yang panjang, mungkin hubungan itu terjalin lebih dari 90 tahun. Untuk itu ada baiknya juga nanti kita buka bagian dari Alkitab di Bilangan 12, dan beberapa ayat tambahannya.

Saya dilahirkan sebagai anak laki-laki pertama dengan dua orang adik perempuan. Mengingat masa kecil dulu, ada satu hal yang paling tidak disukai adalah melaksanakan perintah dari orang tua saya untuk menjaga adik saya. Suatu pekerjaan yang mengganggu, tetapi pekerjaan itu harus juga dikerjakan karena takut kepada ayah saya. Mungkin kalau ditanya kepada adik saya, pasti ia akan bercerita bahwa kakaknya penuh dengan keluhan dan omelan ketika sedang menemani dia, baik di sekolah atau di rumah. Jadi dapat diartikan saya bukanlah seorang kakak yang baik.
Beberapa bulan yang lalu, waktu perjalanan pulang dari Singapura, saya kebetulan satu pesawat dengan sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, anak perempuannya dan anak lelakinya yang masih kecil-kecil, yang lelaki mungkin berumur kurang lebih 3 tahun. Saya memperhatikannya karena merasa terganggu oleh tingkah anaknya yang laki-laki itu, sangat aktif, rewel dan mengganggu. Tetapi kejengkelan itu saya tahan ketika melihat ayahnya tidak berbuat apa-apa, ia hanya duduk diam dan bergeming. Yang sibuk adalah anaknya yang perempuan menjaga adiknya, merayu adiknya, agar mau makan, agar mau duduk diam dlsbnya. Terlihat begitu sabar sang kakak menjaga adiknya, padahal mungkin sang kakak tidak lebih berumur 9 tahun.
Ketika menunggu bagasi di terminal kedatangan, saya melihat anak laki-laki itu naik ke ban berjalan dan berlari-lari, sehingga membuat repot sang kakak. Saya mencoba membantunya untuk memegang sang adik, yang kemudian sang kakak menggendong adiknya itu. Sambil menunggu bagasi saya mulai bertanya kepadanya, dan benar dugaan saya bahwa ketika ia baru saja duduk di kelas 4SD, dan dia anak yang pertama. Sang ayah sama sekali tidak peduli keadaan sekelilingnya, seperti orang yang sedang dilanda masalah berat. Dengan tidak hadirnya sang ibu, tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan dalam hati saya, dan hal inilah  yang membuat saya iba melihat sang anak perempuan tersebut, seolah-olah menggantikan peran ibunya.Bagaimana ia sibuk mengendong adik, sambil menarik-narik kopernya. Saya membantu mengambilkan barang-barangnya, tanpa berani bertanya-tanya.

Melihat bagaimana kakak perempuan menjaga adiknya tanpa mengeluh dan marah-marah, saya dapat mengerti juga akan hal bagaimana Miryam demikian setia menjaga adiknya. Ia pasti mengasihinya. Ia setia menjaga adiknya, tanpa berpikir macam-macam, yang ia pikirkan hanya menjaga adiknya agar selamat! Ia tidak tahu bahwa adik yang dijaganya itu kelak menjadi Musa. Seorang tokoh besar dalam sejarah manusia, terutama bagi kita yang mengaku pengikut Kristus.
Pada kejadian tersebut tidak seorangpun tahu termasuk ibunya bahwa  bayi yang diapungkan dalam keranjang di tepi sungai Nil itu akan menjadi tokoh besar yang berkenan di hadapan Allah. 

Melihat apa yang dikerjakan oleh Miryam, ini suatu  perjuangan yang cukup berat bagi seorang remaja perempuan untuk mengawasi adiknya itu dalam situasi gawat dan darurat. Karena jika sampai tertangkap oleh para mandor orang Mesir, akibatnya sangat berat, ada kemungkinan baik dirinya maupun adiknya akan dibunuh sesuai dengan peraturan yang berlaku saat itu. 
Keluaran 1:16 "Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup.
Keluaran 1:22 Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: "Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup."

Tidak dijelaskan sudah berapa lama bayi itu di apungkan di sungai Nil, karena Alkitab tidak menjelaskan lebih jauh. Hal tersebut tidak perlu kita perdebatkan, yang jelas Alkitab pada bacaan ini ingin menceritakan kepada pembacanya sebuah kisah sejarah yang sangat penting bagi umat Israel serta umat manusia umumnya (umat yang percaya kepada Kristus). Kisah sejarah ini  mengungkapkan pekerjaan Allah yang tak terduga untuk umat pilihannya. Pada ayat 5 terlihat bagaimana cara kerja Allah yang ajaib, diceritakan bagaimana seorang puteri Firaun melihat keranjang yang terapung ditepian sungai Nil, di ayat 6 menjelaskan bagaimana puteri Firaun juga seorang yang berwawasan, sehingga ia tahu itu pasti bayi bangsa Ibrani.
Ini suatu kebetulan yang membawa keberuntungan bagi kebanyakan orang-orang duniawi, sedangkan bagi orang-orang percaya, kita percaya ini bukan kebetulan melainkan ini adalah pekerjaan dan rencana Allah.

Sebelum kita membahas ayat-ayat selanjutnya, ada baiknya juga kita memeriksa, apa yang dapat kita petik dari 3 ayat pertama ini. Bagaimana hubungan kita dengan saudara kandung kita? Apakah kita saling menjaga satu dengan yang lainnya? Seperti yang dilakukan Miryam.
Ketika kita menjaga, memelihara hubungan yang baik dengan saudara kita itu dilakukan dengan tulus atau ada motivasi tertentu, misalnya karena saudara kita itu mempunyai harta yang banyak, pengaruh yang besar, atau mempunyai kepandaian tertentu, sehingga ada kemungkinan ia pun akan menolong kita dikemudian hari?
Atau bahkan kita sudah sekian tahun tidak bertegur sapa satu dengan yang lainnya? Mungkin saat ini kita sedang bertarung dipengadilan memperebutkan harta warisan? Mungkin saat ini kita sedang sakit hati kepada saudara kita, yang tidak mau menolong kita kala kita kesusahan!

Alkitab mengajarkan kepada kita,  (1 Yohanes 4:20-21) Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.
Kasih kepada saudara ada kasih tanpa syarat. Inilah bentuk dasar dari pelayanan, seperti yang Miryam kerjakan merupakan masa permulaan pelayanannya.

Masa pelayanan (Kel 2: 7-10)

Kala kita mempelajari tentang kisah Miryam dan Musa, kita mengerti bahwa peran utama dari kejadian ini tidak bisa lepas dari Yokhebed sang ibu dari keduanya. Mengenai Yokhebed tidak diceritakan secara detail dalam Alkitab, tetapi dari bacaan yang singkat mengenai dia maka kita percaya bahwa ia adalah ibu yang luar biasa ( khusus mengenai Yokhebed pernah dibahas pada pertemuan wilayah bulan Feb 2016). Jadi sumber kasih Miryam kepada adiknya, sumber keberanian dan kepandaiannya adalah hasil didikan sang ibu.

Miryam terbukti bukan hanya anak yang patuh kepada orang tuanya, melainkan iapun pintar serta berani.
Ketika Miryam melihat pandangan belas kasih di wajah perempuan Mesir itu, ia tidak ragu-ragu. Ia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dan dengan berani berbicara kepada putri Mesir itu. Seorang gadis budak yang memberikan usulan kepada seorang anggota keluarga kerajaan merupakan tindakan berani dan mempertaruhkan nyawa. Meskipun demikian, keberaniannya mendorong Miryam memberikan usulan yang kemudian diterima oleh putri Firaun. "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan putri?" (Kel. 2:7). Bagaimana hasilnya? Tampaklah di sini bagaimana Allah bekerja. Putri Firaun menyetujuinya langsung (Kel 2:8), dan bukan hanya itu Putri Firaun juga  meminta Yokhebed untuk menyusui dan merawat hingga anak atau bayi itu cukup besar (Kel 2:9).
Masa menyusui dan merawat ini tentunya bukan waktu yang singkat, pasti kegiatan ini dilakukan bertahun-tahun, tidak tahu persisnya. Hanya pada ayat 10 dikatakan ' Ketika anak itu telah besar... '
Puteri Firaun tetap tidak bisa melupakan bayi tersebut, dan kelihatan ia juga sangat mengasihi sang bayi yang telah besar ini, dengan mengangkat sebagai anaknya, dan kemudian Puteri Firaun memberi nama Musa yang artinya 'Karena aku telah menariknya dari air'.

Miryam melakukan awal pekerjaan dengan baik dan tulus disertai Kasih. Ini merupakan dasar permulaan dalam pelayanan. Ketika Kasih menguasai hidupnya maka pikirannya pun terbuka untuk hal-hal yang baik, sehingga terjadilah seperti bacaan di atas. 
Melalui ayat - ayat inilah kita juga diingatkan kembali, ketika kita hidup dengan penuh Kasih terhadap sanak keluarga kita, maka kita dapat masuk kedalam pelayanan yang sesungguhnya.
Ada dua institusi yang secara khusus diciptakan oleh Allah, pertama adalah Keluarga (melalui pernikahan) dan yang kedua adalah Gereja.
Kita harus sadar bahwa "Keluarga" adalah dibentuk oleh Tuhan dengan mengikut citra Allah, dan ini merupakan inisiatif Allah.  
Kejadian 2:7,18
2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." 

Jadi apapun jabatan kita dalam keluarga, baik sebagai Suami, Istri atau anak, kita harus membentuk keluarga sesuai dengan keluarga berdasarkan Citra Allah. Keluarga yang bertanggung jawab di hadapan Allah. Sehingga otomatis kita akan saling melayani satu dengan yang lainnya dalam satu keluarga inti. 

Jika keluarga ini bergabung dengan keluarga-keluarga lain yang juga saling percaya kepada Allah, maka kumpulan inilah yang dinamakan Gereja yang dalam bahasa Yunani disebut ekklesia berarti persekutuan segala orang percaya dari segala tempat dan segala abad yang adalah merupakan tubuh Kristus (Kol. 1:18); sering disebut juga "the invisible church / gereja yang tidak kelihatan secara fisik" (Matius 16:18); jemaat yang berkumpul di suatu kota (KPR. 5:11); jemaat yang berkumpul disebuah rumah (Roma 16:5). Jadi Gereja bukan mengacu kepada gedung melainkan lebih mengacu kepada berkumpulnya orang-orang percaya! Akar kata "Gereja" tidak berhubungan dengan gedung, tetapi dengan orang.
Kembali kepada bacaan hari ini, kita dapat belajar bagaimana sebuah keluarga yang percaya kepada Allah, hidup dalam tekanan, penyiksaan dan perbudakan, yaitu keluarga Amran, tetap bersatu teguh menghadapi masalah yang mereka hadapi!
Bagaimana dengan keluarga kita? Apa yang terjadi ketika ada hal-hal yang tidak menyukakan hati kita dalam kehidupan berkeluarga? Apa yang kita kerjakan ketika terjadi hal-hal yang menekan kehidupan kita?
Ketika persoalan menguasai kehidupan kita maka sukacita kita hilang! Dapat dibayangkan bagaimana orang-orang yang kehilangan sukacita itu berkumpul bersama dan dengan bibirnya mengaku sebagai orang percaya, perkumpulan macam apa yang terbentuk?

Akhir pelayanan.(Bil : 12:1-10)

Ada sebuah buku berjudul "Finishing Well" karya dari Rev. DR. David W. F. Wong, yang meneliti 13 tokoh alkitabiah berdasarkan observasi positif dan negatif dari setiap peristiwa di dalam kehidupan mereka. Tema-tema terkait mencakup konsep menyelesaikan pelayanan dengan baik.
Tidaklah berat untuk memulai sesuatu. Yang berat adalah bagaimana menyelesaikannya dengan baik. Menurut data yang dimilikinya, kurang dari 30% pemimpin yang menyelesaikan tugasnya dengan baik. 

Bagaimana dengan tokoh kita kali ini yaitu Miryam - Sang Saudara Perempuan? Ia memulainya dengan sangat baik. Ia pun setia menemani Musa untuk jangka waktu yang lama sekali bagi ukuran manusia. 
Musa ketika dipanggil Allah untuk tugas membebaskan bangsa Israel dari Mesir telah berumur 80 tahun. Musa berhasil membawa bangsa Israel menyeberangi Laut Teberau, keluaran 14 : 28-31 Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka. Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut. Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu.

Musa sangat berterima kasih kepada Allah melihat kejadian dahsyat tersebut, ia menyaksikan betapa Tinggi dan Luhur Allah yang ia sembah, sampai - sampai ia bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian pujian bagi Allah (Kel 15:1-18). Pada ayat 20-21 Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari. Dan menyanyilah Miryam memimpin mereka: "Menyanyilah bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut."

Alkitab menyebut Miryam sebagai Nabiah, suatu penghargaan yang tinggi, dan ini dapat kita bayangkan bagaimana hubungan keduanya. Sang kakak menyaksikan bagaimana bayi yang ia lindungi sekarang menjadi Nabi yang dipilih Allah untuk membebaskan bangsanya. Miryam setia, kasih terhadap Musa untuk waktu yang lebih dari 90 tahun.

Hanya akhir kehidupannya sungguh menyedihkan jika kita lihat pada Bil 12:1-10. Miryam di usianya yang telah lanjut merasa iri / tidak suka melihat Musa, dan karena Musa mengambil istri lagi dari wanita Kush, Bil 12:1-2 Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN. 
Diakhir kisah pada Bil 12 kita tahu bahwa Allah murka (Bil 12:9-10) dan akibatnya Miryam kena penyakit kusta selama 7 hari ia dikucilkan. Kemudian kisah Miryam tidak diceritakan kembali hanya ada pada waktu ia meninggal. (Bil 20:1)

Saya mengutip dari buku Sorotan Iman mengenai Miryam ; 'Hidup Miryam mirip selimut yang terbuat dari sambungan-sambungan kain perca yang dijahit serampangan. Jarang kita melihat di dalam diri seorang "tokoh kecil" begitu banyaknya aplikasi yang berbeda tentang contoh yang baik dan yang buruk. Miryam menunjukkan keberanian dan belas kasih di dalam melindungi adik bayinya, Musa, dan kesetiaan serta kekuatan di dalam mendukung kepemimpinan Musa di kemudian hari. Ia menunjukkan hati yang menyembah dan kecakapan memimpin ketika menyanyikan pujian kepada Allah di Laut Merah. Namun, sebaliknya, ia menunjukkan sikap mementingkan diri sendiri dan kecemburuan yang besar terhadap kepemimpinan Musa. Alangkah tragisnya kehidupan Miryam, yang diawali dengan begitu baik, tetapi berakhir sebagai seorang penderita kusta."

Bagaimana dengan kita, yang juga merupakan tokoh lebih kecil lagi, mungkin sangat kecil jika dibandingkan dengan Miryam, dalam lingkungan kita? Akankah atau haruskah kita mengakhiri pelayanan kita dengan buruk?
Kita semua menyukai akhir yang bagus (happy ending) dari suatu kisah. Kisah hidup kita belum berakhir. Kita tidak akan pernah tahu kejutan yang disiapkan Allah bagi kita. Kisah kita belum berakhir, sebelum Allah mengakhirinya – dan akhir kisah-Nya selalu sempurna.

Kita mungkin atau mungkin tidak memulai kehidupan Kristen kita dengan baik. Kemungkinan di saat ini, kita sedang atau tidak sedang menjalani dengan baik perjalanan kita bersama Tuhan. Namun, hal yang terpenting adalah: Bagaimana kita akan menyelesaikan hidup kita? Bagaimana kita nantinya menutup babak kehidupan kita? 
Miryam jatuh karena iri hati. Iri hati menurut Rev. Billy Graham adalah salah satu dari tujuh dosa yang mematikan!
Inilah yang perlu kita waspadai, kita harus menaruh perhatian khusus mengenai masalah Hati ini!
Alkitab mencatat banyak masalah iri hati, contohnya Kejadian 4:5-7. Kisah tentang Kain dan Habel yang sangat kita kenal. 
Allah telah mengingatkan Kain:...Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.
Ternyata Kain tidak berkuasa atasnya, oleh karena itu ia membunuh adiknya Habel! Masih banyak kisah-kisah tentang iri hati dalam Alkitab. Dan Amsal 14:30 mengatakan :"Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang."
Kita sudah tahu tentang hal itu tetapi tetap saja kita iri hati! Kita iri hati dalam segala hal, akibatnya dalam keluarga terjadi perpecahan karena iri hati. Hati yang mempunyai penyakit ini dibawa kembali bersekutu dengan sesama orang - orang yang percaya tetapi mereka juga membawa penyakit hati ini. Sehingga dalam perkumpulan orang - orang percaya timbul perpecahan karena penyakit kronis ini telah menggerogoti Tubuh Kristus! Dosa yang mendukakan Roh Kudus, dan tidak diampuni!
Apa yang harus kita perbuat? Apakah dengan disiplin yang kuat setiap harinya agar tidak ada iri hati?
Kalau kita berusaha mendisplinkan akan hal ini maka ini adalah perbuatan agamawi, ini yang diajarkan oleh banyak agama di dunia, dan ini sesuatu hal yang tidak mungkin berhasil. Kemarin kita iri hati melihat teman mendapatkan promosi, lalu kita mendisplinkan diri kita untuk tidak iri hati. Dikemudian hari kita melihat teman sepelayanan di Gereja telah di angkat menjadi Penatua, kita iri hati karena kita melihat ia tidak layak, sebab kita tahu apa yang diperbuat di luar gereja. Hari ini kita iri hati akan satu hal, besok kita iri hati akan hal lainnya. Lalu kembali kita mendisplinkan diri untuk hal- hal ini, demikian seterusnya tidak ada habis-habisnya.
Lalu bagaimana? Hanya ada satu jalan yang pasti berhasil yaitu kembali kepada Kristus, mohon dengan sungguh kehadapan-Nya, karena hanya melalui Dia yang memberikan Roh Kudus yang dapat mengubah kehidupan kita secara total. Iri hati bukannya ditekan di dalam pikiran melainkan diubah olehNya, sehingga hidup kita diperbaharui! Lihat nanti bagaimana Roh Kudus bekerja!
Setelah diperbaharui dengan Roh Kudus maka kita akan benar-benar meresapi dan mengerti tentang Perumpamaan orang-orang upahan di kebun anggur (Mat 20:1-16)

Kesimpulan apa yang Alkitab ingin ajarkan:
Melihat sejarah Miryam, kita dapat belajar, jangan sesuatu pelayanan yang kita mulai dengan baik, berakhir dengan buruk hanya karena iri hati menguasai hidup kita!
Mintalah kepada Allah agar Roh Kudus mengubah hidup kita bebas dari Iri Hati! Karena Kristus berjanji pada Matius 7:7 Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Klimaknya kita akan mengerti dengan sepenuhnya apa yang Allah katakan: "Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." (Roma 9:15)

Marilah kita bersama-sama dengan bantuan Roh Kudus membina Keluarga yang berkenan di hati Tuhan sehingga kita juga dapat membina Gereja yang juga Memuliakan Allah!

Bogor 8 Juli 2016.
Luki F. Hardian