Kemurahan
Gal 5:22-23
(22) Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, (23) kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
Lukas 6:27-36
Kasihilah musuhmu
(27) "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; (28) mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. (29) Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. (30) Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. (31) Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. (32) Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.(33) Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. (34) Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. (35) Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.(36) Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
Salah satu Khotbah yang sangat terkenal diantara murid-murid Yesus baik murid-murid awal saat pelayanan Kristus ketika hadir di dunia ini, maupun murid-murid Yesus dikemudian hari hingga saat sekarang yaitu Khotbah di Bukit.
Matius membahas khotbah ini lebih panjang dan lengkap yaitu Mat 5-7dibandingkan dengan yang kita baca di Lukas hanya di Luk 6 : 20-49.
Jadi perikop yang kita baca hari adalah salah satu bagian dari khotbah di bukit, oleh karena itu jika
membaca perikop hari ini tanpa membaca atau mengerti perikop sebelum dan sesudahnya, maka apa yang Tuhan Yesus perintahkan pada beberapa ayat di atas sangat sulit dimengerti apalagi dikerjakan.
Inilah pengajaran radikal yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridnya serta orang yang mau menjadi pengikut Kristus. Dikatakan radikal karena Yesus menjelaskan akar dari pada ajaran Allah yang benar, yaitu ayat(27) "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu".
Inilah yang tidak diketahui atau disadari oleh orang-orang banyak termasuk murid-murid Kristus.
Kemudian Yesus melanjutkan pada ayat 28 hingga 31 suatu aturan radikal lainnya.
"mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
Perintah Yesus :"Kasihilah musuhmu" bukanlah perintah baru melainkan suatu penegasan tentang Hukum Kasih yang Allah sudah berikan sejak dulu, hanya disalah artikan oleh ahli Taurat tentang ajaran bencilah musuhmu. Ini bisa dilihat pada Mat 5:43-44 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. (44) Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
LAI menerjemahkan kata Kamu telah mendengar firman...... jika dilihat bahasa aslinya Yunani kata firman itu "erreyh", kata erreyh ini bisa diarti juga "dikatakan". Ketika kita mendengar kata "fiman" maka otomatis pikiran kita adalah ucapan Allah. Jadi seolah-olah ini sudah dikatakan Allah untuk membenci musuhmu! untuk menghindari kesalah pahaman seharusnya kita mengartikannya bukan "firman" melainkan "dikatakan". Ini seperti yang ditulis dalam
GWV( God Words Version)
"You have heard that it was said, 'Love your neighbor, and hate your enemy.'
BIS ( Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari)
"Kalian tahu bahwa ada juga ajaran seperti ini: cintailah kawan-kawanmu dan bencilah musuh-musuhmu.
FAYH ( Firman Allah Yang Hidup)
"Kalian telah mendengar orang berkata, 'Kasihilah temanmu dan bencilah musuhmu.'
Ini perlu kita lihat perbandingan dari banyak terjemahan Alkitab agar kita tidak menjadi bingung. Dengan membaca banyak terjemahan maka kita mengerti Yesus bukan membawa ajaran baru yang bertentangan dengan ajaran Allah yang lama, akan tetapi Yesus membantah pengertian pengertian Ahli Taurat yang salah.
Jadi sangat jelas kepada kita apa yang Yesus ajarakan mengenai "Kasihilah musuhmu" demikian juga ajaran Yesus selanjutnya yang telah kita baca di ayat 28-31.
Apa yang saya cuplik dari Sabda.org :"Perintah itu dimaksudkan untuk menggiring para pembaca Injil untuk melakukan perbuatan yang dijiwai kasih, dan itu bukan berarti meniadakan hukum Taurat tetapi itu juga berarti peningkatan dari hukum Taurat".
Bagaimana dengan kita saat ini yang mengaku murid Kristus? Pada Ayat 27 jelas dikatakan oleh Yesus : "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata:......"
Jika kita yang mengaku Yesus adalah Tuhan, maka sudah seharusnya kita juga mau mendengarkan apa yang Yesus katakan!
Apakah cukup dengan mendengarkannya saja? Tentu jawabannya: "Tidak"!
Kalau jawabannya "Tidak" berarti setelah mendengarkan kita harus menerapkannya dalam tindakan kita sehari-hari.
Mungkinkah kita mengasihi musuh kita? Mendoakan yang mencaci kamu?
Sebelum menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita melihat dan memeriksa, siapakah musuh kita? siapakah yang mencaci kita? dan dilanjutkan dengan pertanyaan; mengapa sampai kita mempunyai musuh, mengapa sampai orang mencaci kita?
Inilah yang harus kita periksa dengan jujur, agar tidak salah mengartikan ajaran Kritus!
Demikian juga dengan ayat selanjutnya : "Mengapa sampai ada orang yang menampar kita?" Mengapa sampai ada orang yang mengambil kepunyaan kita?"
Sekali lagi periksalah diri kita dengan jujur di hadapan Allah.
Jangan-jangan semuanya itu sumber awalnya adalah diri kita sendiri! Oleh karena itu Yesus menambahkan suatu kondisi yang menjawab pertanyaan di atas dengan "Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka."
Ini suatu pernyataan Tuhan Yesus agar kita jangan menjadi sumber segala petaka atau dengan bahasa sehari-harinya janganlah kita jadi "biang keroknya"
Sudah seharusnya sebagai pengikut Yesus yang setia, maka kita melaksanakan apa yang Yesus perintahkan, maka tentunya buah Roh Kudus ada dalam diri kita (Gal 5:22-23).
Dan kalau sudah demikian mungkinkah kita mempunyai musuh, mungkinkah ada orang yang caci kita?
Ada! yaitu orang yang tidak mau menerima Yesus, orang yang membenci ajaran Kristus, atau lebih jelasnya orang-orang yang membenci kekristenan!
Untuk hal inipun kita tetap harus mengasihinya karena seperti ucapan Yesus :"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat," (Lukas 23:34)
Kita harus mengikuti teladan Yesus, bahwa orang yang membenci Yesus adalah orang yang kehilangan Hidup Kekal dan nasibnya akan berakhir menyedihkan! (Ayub 15:34; Maz 1:5-6)
Inilah yang kita ketahui dengan jelas oleh karena itu kita harus prihatin akan kehidupannya dan bukan membalasnya atau bahkan membencinya. Kita harus mendoakan agar mau berbalik kepada Allah.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah: "Bagaimana hubungan antar denominasi Kristen? Bagaimana hubungan antar jemaat dalam satu Gereja? Bagaimana hubungan kita dengan sesama manusia?"
Ayat : 32-34
Penjelasan:
(32) Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.(33) Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. (34) Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
Ayat - ayat di atas cukup jelas dan dapat kita artikan secara harafiah. Apa yang dikatakan oleh Yesus ini pada ayat 32 hingga 34 itu merupakan ayat pembanding agar kita bisa beda dengan orang-orang dunia. Ayat 27 hingga 31 menjelaskan pandangan baru dari kesalah mengertian dari Firman Allah tentang kasih, dan agar jelas bagi pendengarNya maka Yesus memberikan pembandingnya pada ayat 32-34. Ayat-ayat ini menjelaskan tentang kasih yang tidak sempurna, suatu kasih yang mengandung pamrih. Sedangkan Allah mengajarkan Kasih yang sempurna, Kasih tanpa pamrih.
Bagaimana dengan kita? Jika kita lihat kepertanyaan sebelumnya, dan periksalah dengan jujur di hadapan Allah! Maka apa yang dikatakan Yesus, ternyata hingga saat ini juga masih terjadi. Kita tidaklah beda dengan yang disebut di ayat 32-34. Kita baik kepada orang yang baik pada kita, bukan? Kita menaruh hormat hanya kepada denominasi yang sama! Kita merendahkan denominasi yang lain. Kita membenci orang-orang yang membenci Kristus! Jadi apa bedanya kita dengan orang fasik, dan masih sama dengan dunia!
Ini berarti belum mau mendengarkan Firman Yesus di ayat 27, kalau belum mau mendengar berarti belum mengakui Yesus sebagai pemimpin kehidupan saya dan anda.
Ini wajib kita pikirkan kembali dengan baik-baik!
Ayat :35-36
(35) Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.(36) Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
Dibagian akhir perikop ini Yesus menegaskan suatu alasan mengapa kita harus mengasihi musuh dan berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada kita. Allah Yang Mahatinggi baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Pada Mat:
5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
Ini semua karena Allah "murah hati".
Jadi jelas sudah mengapa kita tidak mau berbuat apa yang diperintahkan oleh Yesus melalui bacaan ini karena kita tidak mempunyai kemurahan hati. Inilah akar permasalahannya, begitu tidak ada kemurahan hati maka kita tidak dapat mengasihi musuh kita, atau orang-orang yang mencaci kita.
Kalau kita tetap pada pendirian kita maka kita tidak akan menerima upah yang besar yaitu kehilangan hak menjadi anak-anak Allah.
Apa yang Allah minta yang dijelaskan melalui perkataan Yesus sebenarnya murah dan mudah. Apa ruginya kalau kita murah hati. Kerugian apa yang akan kita derita jika kita murah hati. Kerugian apa jika kita mengasihi orang yang tidak mengasihi kita? Kerugian apa jika mengampuni orang yang menganiaya kita? Kerugiannya adalah ego kita. Ego kita yang gosok oleh Iblis, sehingga Roh Kudus dalam diri kita singkirkan. Kerugian ini yang berakibat fatal ketika kita tidak murah hati.
Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Kesimpulan:
Dengan tidak adanya kemurahan maka otomatis tidak adanya Buah Roh, dengan tidak adanya Buah Roh berarti perlu dipertanyakan apakah Yesus Tuhan kita?
Bogor, 6 Juli 2015
Luki F. Hardian
Jumlah Pengunjung
20150607
Kesabaran dalam kesesakan
Kesabaran dalam kesesakan
Habakuk 2 :1-20
Orang yang benar akan hidup oleh karena percayanya
(1) Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. (2) Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. (3) Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. (4) Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. (5) Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya."
Penghukuman atas para penindas
(6) Bukankah sekalian itu akan melontarkan peribahasa mengatai dia, dan nyanyian olok-olok serta sindiran ini: Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya berapa lama lagi? dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian. (7) Bukankah akan bangkit dengan sekonyong-konyong mereka yang menggigit engkau, dan akan terjaga mereka yang mengejutkan engkau, sehingga engkau menjadi barang rampasan bagi mereka? (8) Karena engkau telah menjarah banyak suku bangsa, maka bangsa-bangsa yang tertinggal akan menjarah engkau, karena darah manusia yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu. (9) Celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya, untuk menempatkan sarangnya di tempat yang tinggi, dengan maksud melepaskan dirinya dari genggaman malapetaka! (10) Engkau telah merancangkan cela ke atas rumahmu, ketika engkau bermaksud untuk menghabisi banyak bangsa; dengan demikian engkau telah berdosa terhadap dirimu sendiri. (11) Sebab batu berseru-seru dari tembok, dan balok menjawabnya dari rangka rumah. (12) Celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan. (13) Sesungguhnya, bukankah dari TUHAN semesta alam asalnya, bahwa bangsa-bangsa bersusah-susah untuk api dan suku-suku bangsa berlelah untuk yang sia-sia?(14) Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut. (15)Celakalah orang yang memberi minum sesamanya manusia bercampur amarah, bahkan memabukkan dia untuk memandang auratnya. (16) Telah engkau kenyangkan dirimu dengan kehinaan ganti kehormatan. Minumlah juga engkau dan terhuyung-huyunglah. Kepadamu akan beralih piala dari tangan kanan TUHAN, dan cela besar akan meliputi kemuliaanmu. (17) Sebab kekerasan terhadap gunung Libanon akan menutupi engkau dan pemusnahan binatang-binatang akan mengejutkan engkau, karena darah manusia yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu. (18) Apakah gunanya patung pahatan, yang dipahat oleh pembuatnya? Apakah gunanya patung tuangan, pengajar dusta itu? Karena pembuatnya percaya akan buatannya, padahal berhala-berhala bisu belaka yang dibuatnya. (19) Celakalah orang yang berkata kepada sepotong kayu: "Terjagalah!" dan kepada sebuah batu bisu: "Bangunlah!" Masakan dia itu mengajar? Memang ia bersalutkan emas dan perak, tetapi roh tidak ada sama sekali di dalamnya. (20) Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!
Ayat 1-3
Habakuk 2 ini menjelaskan tentang jawaban Allah atas doa dan jeritan Nabi Habakuk, termasuk berbagai pertanyaan ada dalam pikiran dan hati Habakuk. Kitab ini menurut para ahli ditulis antara thn 608 hingga 598 SM. Pada saat itu Yehuda ada dalam kuasa bangsa Babel yang fasik. Berbagai kejadian yang Nabi Habakuk lihat tidak masuk akalnya. Bagaimana orang orang fasik dapat hidup enak-enak, sedangkan org benar hidup menderita. Hal ini dapat kita lihat pada Habakuk pasal 1. Banyak pertanyaan ini ia sampaikan kepada Allah.
Pada Habakuk 2:1-3 Habakuk mendapat jawaban Allah:
(1) Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. (2) Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. (3) Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.
dan ia dipertintahkan untuk mencatatnya pada loh-loh. Mengapa harus dicatat pada loh-loh? Karena apa yang Allah katakan tidak segera terlaksana, dan orang sambil lalu dapat membacanya. Jawaban Allah pasti terjadi , Allah tidak akan menipu (ayat3).
Ketika kita melihat ketidak adilan yang terjadi di dunia, misalnya kita tahu bagaimana penindasan yg terjadi kepada kaum tidak mampu oleh orang-orang yg mempunyai kuasa, dan hal yg mengusik hati adalah mengapa ini bisa terjadi?
Hidup kita penuh dengan kesesakan dan penuh penderitaan, kita merasa hidup ini tidak adil, kita berteriak kepada Tuhan, tapi jawaban tidak kita peroleh.
Hingga suatu saat kita bertanya apakah benar Allah ada dan benarkah Allah masih berkuasa?
Jika kita perhatikan penderitaan bangsa Yehuda pada zaman Nabi Yehuda, penderitaan ini terjadi karena bangsa ini telah meninggalkan Allah sehingga dihukum oleh Allah dengan menggunakan bangsa fasik yaitu Babel untuk menguasai kehidupan bangsa Yehuda.
Jika kita melihat penderitaan pengikut Kristus pada zaman Gereja Mula-Mula atau tepatnya zaman Paulus, sangat jauh berbeda mereka menderita bukan karena meninggalkan Allah melainkan karena mereka beriman kepada Yesus Kristus. Mereka menderita karena mengabarkan Injil. Ini bisa kita lihat pada Roma 8:35, Roma 12:12, atau 2 Kor 6: (4) Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, (5)dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa;
Yang menjadi pertanyaan saat ini apa yang membuat kita hidup dalam kesesakan?
Kalau kita boleh jujur kita merasakan kesesakan bukan karena memberitakan Injil seperti yang terjadi pada zaman gereja mula-mula. Akan tetapi kita pun menolak pendapat bahwa kesesakan yang kita derita karena kita telah meninggalkan Allah seperti yang dikerjakan bangsa Yehuda.
Nah, kalau bukan dua-duanya apa yang membuat kita hidup dalam kesesakan?
Mari kita periksa bersama-sama apa sebenarnya akar masalahnya dengan menelaah ayat-ayat selanjutnya.
ayat 4-5
(4) Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. (5) Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya."
Ayat 4 jelas mengatakan bahwa orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya, dan ayat 5 orang sombong tidak akan tetap ada. artinya akan dimusnahkan.
Siapa yang dimaksud dengan orang benar disini? Yang paling mudah dengan melihat ayat 4 dan ayat 5 tentunya orang yang tidak angkuh, tidak sombong. Dan yang terpenting hati orang benar tentunya hanya terarah kepada Allah, bersekutu secara erat dan berkesinambungan dengan Dia.
Kata orang benar akan hidup oleh percayanya ini dapat diartikan hidupnya penuh dengan "iman", kepercayaan yang kokoh dan kesetiaan hanya kepada Allah. Rasul Paulus menulis Roma 1:17 (17) Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman." dan Gal 3:11
(11) Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman."
Jadi jelaslah mengapa bangsa Yehuda pada saat itu hidup penuh kesesakan karena mereka tidak beriman kepada Allah. Malah hidup menyatu dengan bangsa Babel yang fasik dan besar kemungkinan kehidupan bangsa Yehuda sudah menyatu dengan kehidupan bangsa Babel sehingga hidup seperti orang fasik.
Sekarang kembali kepada diri kita, agar jelas permasalahannya.
Apakah kita hidup penuh dengan kesombongan?
Apakah kita hidup tidak rendah hati?
Apakah kita hidup sudah beriman kepada Allah melalui Yesus Kristus?
Ayat 6-20
Ayat-ayat ini mengucapkan kutukan-kutukan hukuman atas mereka yang "tidak lurus hatinya" (ayat Hab 2:4). Orang semacam ini akan dihukum karena merampas milik orang (ayat Hab 2:6-8), ketidakadilan (ayat Hab 2:9-11), kekerasan dan tindak pidana (ayat Hab 2:12-14), kebejatan (ayat Hab 2:15-17), dan penyembahan berhala (ayat Hab 2:18-20).
Kalau melihat hukuman Allah kepada bangsa Yehuda dengan menggunakan bangsa Babel, kelihatannya Allah begitu kejam ya. Koq tega ya? Umat yang dikasihinya dihukum demikian rupa.
Demikian pula kala kita hidup dalam kesesakan, kita mulai berpikir, apa dosa saya ya, sehingga dihukum Allah sedemikian rupa.
Sakit yang tak kujung sembuh, orang - orang mengfitnah saya, padahal saya sudah berbuat banyak untuk mereka.
saya mencari pekerjaan yang tak kunjung datang, dan masih banyak lagi keluhan-keluhan lainnya.
Saya mulai mencari jawaban tetapi tidak saya temui. Sehingga kembali kepada sangkaan saya semula bahwa Allah sangat kejam. atau mungkin Allah sudah tidak ada atau tidak peduli, mungkin juga Allah sudah tidak berkuasa lagi.
Melihat jawaban Allah kepada Nabi Habakuk ada pertanyaan yang masih relevan saat ini, apakah saya bengkok hati?, apakah saya mengingini hak orang lain?, apakah saya masih melakukan ketidak adilan, kekerasan, melanggar hukum, kebejatan termasuk perselingkuhan, dan yang terparah adalah menyembah berhala baik secara sadar maupun secara tidak sadar!
Gambaran Allah yang kejam sebenarnya sangatlah salah! Allah sejak zaman PB hingga saat ini tidak berubah adalah Allah yang penuh Kasih!
mazmur 32 : 1 Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya,
yang dosanya ditutupi! (2) Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN,
dan yang tidak berjiwa penipu!
Roma 4: (7) "Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; (8)berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya."
Kemudian apa yang dimaksud dengan Firman Allah kepada Habakuk pada ayat 6-20 dengan menggunakan kata "Celakalah...." sebanyak 5 kali.?
Ketika kita hidup seperti yang digambarkan pada bacaan hari ini, maka sebenarnya dunia menerkam kita dengan kejamnya, dan Allah membiarkannya. Karena kita memilih jauh daripada Nya. Kita hidup terpisah atau memisahkan diri daripada Allah!
Kita melihat korupsi merajarela di negeri kita, dan walau sudah disidangkan dan divonis mereka terlihat tenang-tenang saja, sepertinya tidak malu. Apakah benar memang demikian? Tidak!
Dunia yang sama bejatnya mencibirnya, menghinanya dlsbnya.
Jika ada orang yang tidak lurus hatinya atau bengkok hati, pasti sekali waktu akan terbuka kedoknya sendiri. Apakah ini hukuman dari Allah? Bukan karena dunia sedang menganga menunggu saatnya terbuka!
Semua hal-hal kejahatan kebejatan yang dilakukan manusia akan terbuka pada saatnya.
Mari perhatikan Amsal 29:(6) Orang yang jahat terjerat oleh pelanggarannya, tetapi orang benar akan bersorak dan bersukacita.
Jerat - jerat inilah yang ditebar oleh sipenghulu dusta!
Ketika orang berselingkuh dan terbuka kasusnya, apakah ini adalah hukuman dari Allah? bukan Ia terjerat oleh pelanggarannya.
Maka dari itu bertobatlah, berbaliklah kepada Allah, sebelum Allah benar-benar menjatuhkan hukuman yang dasyat bagi orang jahat yang tidak mau bertobat dengan tidak ada ampun pada saat hari penghakiman!
Kini sampailah pada akhir pembacaan kita. Bagaimana dengan kesesakan yang kita derita?
Apa sebabnya kita merasakan kesesakan?Hanya kita sendiri dan Allah yang tahu.
Kalau kita hidup benar dan beriman hanya kepada Allah dan mengalami kesesakan, maka kita pasti bisa bersabar dalam kesesakan sambil menanti jawaban dari Allah seperti Nabi Habakuk.
Kesimpulan:
Hiduplah benar, berimanlah dan fokuslah hanya kepada Allah melalui Yesus Kristus maka kesabaran selalu ada dalam hati kita apapun yang terjadi!
Bogor 5 Juni 2015
Luki F.Hardian
Langganan:
Postingan (Atom)