Jumlah Pengunjung

20150607

Kesabaran dalam kesesakan

Kesabaran dalam kesesakan
Habakuk 2 :1-20
Orang yang benar akan hidup oleh karena percayanya
(1) Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. (2) Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. (3) Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. (4) Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. (5) Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya."
Penghukuman atas para penindas
(6) Bukankah sekalian itu akan melontarkan peribahasa mengatai dia, dan nyanyian olok-olok serta sindiran ini: Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya berapa lama lagi? dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian. (7) Bukankah akan bangkit dengan sekonyong-konyong mereka yang menggigit engkau, dan akan terjaga mereka yang mengejutkan engkau, sehingga engkau menjadi barang rampasan bagi mereka? (8) Karena engkau telah menjarah banyak suku bangsa, maka bangsa-bangsa yang tertinggal akan menjarah engkau, karena darah manusia yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu. (9) Celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya, untuk menempatkan sarangnya di tempat yang tinggi, dengan maksud melepaskan dirinya dari genggaman malapetaka! (10) Engkau telah merancangkan cela ke atas rumahmu, ketika engkau bermaksud untuk menghabisi banyak bangsa; dengan demikian engkau telah berdosa terhadap dirimu sendiri. (11) Sebab batu berseru-seru dari tembok, dan balok menjawabnya dari rangka rumah. (12) Celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan. (13) Sesungguhnya, bukankah dari TUHAN semesta alam asalnya, bahwa bangsa-bangsa bersusah-susah untuk api dan suku-suku bangsa berlelah untuk yang sia-sia?(14) Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut. (15)Celakalah orang yang memberi minum sesamanya manusia bercampur amarah, bahkan memabukkan dia untuk memandang auratnya. (16) Telah engkau kenyangkan dirimu dengan kehinaan ganti kehormatan. Minumlah juga engkau dan terhuyung-huyunglah. Kepadamu akan beralih piala dari tangan kanan TUHAN, dan cela besar akan meliputi kemuliaanmu. (17) Sebab kekerasan terhadap gunung Libanon akan menutupi engkau dan pemusnahan binatang-binatang akan mengejutkan engkau, karena darah manusia yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu. (18) Apakah gunanya patung pahatan, yang dipahat oleh pembuatnya? Apakah gunanya patung tuangan, pengajar dusta itu? Karena pembuatnya percaya akan buatannya, padahal berhala-berhala bisu belaka yang dibuatnya. (19) Celakalah orang yang berkata kepada sepotong kayu: "Terjagalah!" dan kepada sebuah batu bisu: "Bangunlah!" Masakan dia itu mengajar? Memang ia bersalutkan emas dan perak, tetapi roh tidak ada sama sekali di dalamnya. (20) Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!


Ayat 1-3
Habakuk 2 ini menjelaskan tentang jawaban Allah atas doa dan jeritan Nabi Habakuk, termasuk berbagai pertanyaan ada dalam pikiran dan hati Habakuk. Kitab ini menurut para ahli ditulis antara thn 608 hingga 598 SM. Pada saat itu Yehuda ada dalam kuasa bangsa Babel yang fasik. Berbagai kejadian yang Nabi Habakuk lihat tidak masuk akalnya. Bagaimana orang orang fasik dapat hidup enak-enak, sedangkan org benar hidup menderita. Hal ini dapat kita lihat pada Habakuk pasal 1. Banyak pertanyaan ini ia sampaikan kepada Allah.

Pada Habakuk 2:1-3 Habakuk mendapat jawaban Allah:
(1) Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. (2) Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. (3) Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.
dan ia dipertintahkan untuk mencatatnya pada loh-loh. Mengapa harus dicatat pada loh-loh? Karena apa yang Allah katakan tidak segera terlaksana, dan orang sambil lalu dapat membacanya. Jawaban Allah pasti terjadi , Allah tidak akan menipu (ayat3).
Ketika kita melihat ketidak adilan yang terjadi di dunia, misalnya kita tahu bagaimana penindasan yg terjadi kepada kaum tidak mampu oleh orang-orang yg mempunyai kuasa, dan hal yg mengusik hati adalah mengapa ini bisa terjadi?
Hidup kita penuh dengan kesesakan dan penuh penderitaan, kita merasa hidup ini tidak adil, kita berteriak kepada Tuhan, tapi jawaban tidak kita peroleh.
Hingga suatu saat kita bertanya apakah benar Allah ada dan benarkah Allah masih berkuasa?

Jika kita perhatikan penderitaan bangsa Yehuda pada zaman Nabi Yehuda, penderitaan ini terjadi karena bangsa ini telah meninggalkan Allah sehingga dihukum oleh Allah dengan menggunakan bangsa fasik yaitu Babel untuk menguasai kehidupan bangsa Yehuda.
Jika kita melihat penderitaan pengikut Kristus pada zaman Gereja Mula-Mula atau tepatnya zaman Paulus, sangat jauh berbeda mereka menderita bukan karena meninggalkan Allah melainkan karena mereka beriman kepada Yesus Kristus. Mereka menderita karena mengabarkan Injil. Ini bisa kita lihat pada Roma 8:35, Roma 12:12, atau 2 Kor 6: (4) Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, (5)dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa;

Yang menjadi pertanyaan saat ini apa yang membuat kita hidup dalam kesesakan?
Kalau kita boleh jujur kita merasakan kesesakan bukan karena memberitakan Injil seperti yang terjadi pada zaman gereja mula-mula. Akan tetapi kita pun menolak pendapat bahwa kesesakan yang kita derita karena kita telah meninggalkan Allah seperti yang dikerjakan bangsa Yehuda.
Nah, kalau bukan dua-duanya apa yang membuat kita hidup dalam kesesakan?
Mari kita periksa bersama-sama apa sebenarnya akar masalahnya dengan menelaah ayat-ayat selanjutnya.

ayat 4-5
(4) Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. (5) Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya."

Ayat 4 jelas mengatakan bahwa orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya, dan ayat 5 orang sombong tidak akan tetap ada. artinya akan dimusnahkan.


Siapa yang dimaksud dengan orang benar disini? Yang paling mudah dengan melihat ayat 4 dan ayat 5 tentunya orang yang tidak angkuh, tidak sombong. Dan yang terpenting hati orang benar tentunya hanya terarah kepada Allah, bersekutu secara erat dan berkesinambungan dengan Dia.

Kata orang benar akan hidup oleh percayanya ini dapat diartikan hidupnya penuh dengan "iman", kepercayaan yang kokoh dan kesetiaan hanya kepada Allah. Rasul Paulus menulis Roma 1:17 (17) Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman." dan Gal 3:11
(11) Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman."

Jadi jelaslah mengapa bangsa Yehuda pada saat itu hidup penuh kesesakan karena mereka tidak beriman kepada Allah. Malah hidup menyatu dengan bangsa Babel yang fasik dan besar kemungkinan kehidupan bangsa Yehuda sudah menyatu dengan kehidupan bangsa Babel sehingga hidup seperti orang fasik.


Sekarang kembali kepada diri kita, agar jelas permasalahannya.
Apakah kita hidup penuh dengan kesombongan?
Apakah kita hidup tidak rendah hati?
Apakah kita hidup sudah beriman kepada Allah melalui Yesus Kristus?

Ayat 6-20
Ayat-ayat ini mengucapkan kutukan-kutukan hukuman atas mereka yang "tidak lurus hatinya" (ayat Hab 2:4). Orang semacam ini akan dihukum karena merampas milik orang (ayat Hab 2:6-8), ketidakadilan (ayat Hab 2:9-11), kekerasan dan tindak pidana (ayat Hab 2:12-14), kebejatan (ayat Hab 2:15-17), dan penyembahan berhala (ayat Hab 2:18-20).

Kalau melihat hukuman Allah kepada bangsa Yehuda dengan menggunakan bangsa Babel, kelihatannya Allah begitu kejam ya. Koq tega ya? Umat yang dikasihinya dihukum demikian rupa.
Demikian pula kala kita hidup dalam kesesakan, kita mulai berpikir, apa dosa saya ya, sehingga dihukum Allah sedemikian rupa.
Sakit yang tak kujung sembuh, orang - orang mengfitnah saya, padahal saya sudah berbuat banyak untuk mereka.
saya mencari pekerjaan yang tak kunjung datang, dan masih banyak lagi keluhan-keluhan lainnya.
Saya mulai mencari jawaban tetapi tidak saya temui. Sehingga kembali kepada sangkaan saya semula bahwa Allah sangat kejam. atau mungkin Allah sudah tidak ada atau tidak peduli, mungkin juga Allah sudah tidak berkuasa lagi.

Melihat jawaban Allah kepada Nabi Habakuk ada pertanyaan yang masih relevan saat ini, apakah saya bengkok hati?, apakah saya mengingini hak orang lain?, apakah saya masih melakukan ketidak adilan, kekerasan, melanggar hukum, kebejatan termasuk perselingkuhan, dan yang terparah adalah menyembah berhala baik secara sadar maupun secara tidak sadar!
Gambaran Allah yang kejam sebenarnya sangatlah salah! Allah sejak zaman PB hingga saat ini tidak berubah adalah Allah yang penuh Kasih!
mazmur 32 : 1 Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya,
yang dosanya ditutupi! (2) Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN,
dan yang tidak berjiwa penipu!
Roma 4: (7) "Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; (8)berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya."

Kemudian apa yang dimaksud dengan Firman Allah kepada Habakuk pada ayat 6-20 dengan menggunakan kata "Celakalah...." sebanyak 5 kali.?

Ketika kita hidup seperti yang digambarkan pada bacaan hari ini, maka sebenarnya dunia menerkam kita dengan kejamnya, dan Allah membiarkannya. Karena kita memilih jauh daripada Nya. Kita hidup terpisah atau memisahkan diri daripada Allah!
Kita melihat korupsi merajarela di negeri kita, dan walau sudah disidangkan dan divonis mereka terlihat tenang-tenang saja, sepertinya tidak malu. Apakah benar memang demikian? Tidak!
Dunia yang sama bejatnya mencibirnya, menghinanya dlsbnya.
Jika ada orang yang tidak lurus hatinya atau bengkok hati, pasti sekali waktu akan terbuka kedoknya sendiri. Apakah ini hukuman dari Allah? Bukan karena dunia sedang menganga menunggu saatnya terbuka!
Semua hal-hal kejahatan kebejatan yang dilakukan manusia akan terbuka pada saatnya.
Mari perhatikan Amsal 29:(6) Orang yang jahat terjerat oleh pelanggarannya, tetapi orang benar akan bersorak dan bersukacita.
Jerat - jerat inilah yang ditebar oleh sipenghulu dusta!
Ketika orang berselingkuh dan terbuka kasusnya, apakah ini adalah hukuman dari Allah? bukan Ia terjerat oleh pelanggarannya.
Maka dari itu bertobatlah, berbaliklah kepada Allah, sebelum Allah benar-benar menjatuhkan hukuman yang dasyat bagi orang jahat yang tidak mau bertobat dengan tidak ada ampun pada saat hari penghakiman!

Kini sampailah pada akhir pembacaan kita. Bagaimana dengan kesesakan yang kita derita?
Apa sebabnya kita merasakan kesesakan?Hanya kita sendiri dan Allah yang tahu.
Kalau kita hidup benar dan beriman hanya kepada Allah dan mengalami kesesakan, maka kita pasti bisa bersabar dalam kesesakan sambil menanti jawaban dari Allah seperti Nabi Habakuk.

Kesimpulan:
Hiduplah benar, berimanlah dan fokuslah hanya kepada Allah melalui Yesus Kristus maka kesabaran selalu ada dalam hati kita apapun yang terjadi!

Bogor 5 Juni 2015
Luki F.Hardian

20150429

Damai Sejahtera Tuhan Bagi Kita


Damai Sejahtera Tuhan Bagi Kita
Yohanes 14:25-31
Roh Kudus yang dijanjikan Ay 25-26
(25) Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; (26) tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Waktu berjalan begitu cepat tidak terasa kita sudah melewati 4 bulan di tahun  2015 ini, bagaimana perjalanan hidup kita bersama Kristus? Pada awal tahun kita sudah belajar "Di dalam Yesus kita berbuah banyak" dilanjutkan bulan berikutnya "Hidup dalam Kasih Allah", lalu "Bersukacita di dalam Tuhan". Sebenarnya jika kita menjalankan semua yang apa yang telah dibahas dan mendalami Firman Tuhan, maka tentunya hidup kita sudah penuh dengan Damai Sejahtera. Namun kenyataannya tidak demikian bukan? Kita lebih sering kehilangan Damai Sejahtera, ini disebabkan oleh tekanan hidup yang bertubi-tubi kita rasakan. Banyak hal yang menggocoh kita dari berbagai sudut kehidupan. Hal demikian juga yang akan dihadapi oleh murid-murid Yesus ketika Yesus disalibkan. Hal inilah yang sudah diketahui oleh Tuhan Yesus, oleh karena itu Ia menegaskan dalam ayat 25 dan 26. Ini difirmankan Yesus Kristus sesaat sebelum Ia diserahkan dan disalibkan.

Ayat 26 a : tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, dalam bahasa aslinya Yunani ditulis parakletos ho pneuma ( par-ak'-lay-tos ho pnyoo'-mah ) dapat diartikan penghibur atau penolong dari Roh Kudus.
Jadi Roh Kudus yang dikirim oleh Allah dalam hal ini berperan sebagai penghibur, ini salah satu tugas dari sekian banyak peran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Mengenai Roh Kudus yang berperan sebagai penghibur sering dikatakan dalam Alkitab seperti pada Yoh 15:26; Yohanes 16:7; Kisah 9:31; Roma 15:4 ; 2 Korintus 1:3-4.

Apakah Roh Kudus sebagai penghibur ini tetap berlaku hingga saat ini? Ya tentu masih berlaku, selama kita percaya kepada Yesus Kristus dan firmanNya.
Pada Matius 28 ayat 20 b tertulis: Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Dengan cara apa Yesus menyertai umatnya hingga akhir zaman yaitu dengan cara mengirimkan Roh Kudus. Roh Kudus adalah Roh Allah yang hidup dan Kekal ( Ibrani 9:14 ).
Jadi kita harus menyakini bahwa Roh Kudus, Roh penghibur itu adalah Roh Allah yang Maha hadir terlebih pada diri setiap orang yang percaya. Janganlah ragu!

Damai Sejahtera ay 27-29
(27) Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (28) Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. (29) Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.

Begitu kita menerima dan merasakan kehadiran Roh Kudus yang menjadi penghibur maka Damai Sejahtera Kutinggalkan bagimu, ayat 27 dan 28 sangat jelas apa yang difirmankan oleh Yesus. Ia pergi kepada Bapa tetapi Damai sejahteranya tetap bersama kita.

Pemberian Yesus ini tidak seperti yang dunia berikan. Sebagai contoh; saya bertahun-tahun menghidupi nafkah keluarga dengan bekerja kepada orang lain, artinya sebagai karyawan. Setiap kali menerima gaji, hati ini sangat berbunga-bunga, dan di dalam hati mulailah membagi-bagi gaji ini untuk banyak keperluan, hati rasanya dipenuhi kegembiraan, karena banyak hal bisa dikerjakan dengan gaji ini. Sesampai nya dirumah mulailah pengaturan keuangan dimulai bersama istri. Begitu selesai dibagi, melihat faktanya langsung saja kegembiraan itu sirna seketika. Kenapa ? karena tidak tersisa apapun! Inilah yang diberikan dunia, cepat sekali berlalu.
Di dalam kehidupan berumah tangga, ada saja benda yang ingin kita punyai, misalnya ingin mempunyai hand phone yang lebih canggih dari yang lama, karena lebih banyak fiturnya, lebih banyak kemampuannya. Mulailah menabung, atau yang lebih parah langsung membeli dengan fasilitas kartu kredit, agar bisa dibayar bulan depan! Begitu kita pakai kartu kredit, tidak lama kemudian kita mendapat telp dari Bank yang menerbitkan kartu kredit tersebut dan dengan rayuan gombalnya untuk mengubah pembelian kita ini menjadi cicilan 24 bulan, kita berpikir ya cuma lebih mahal 24 % tetapi merasa ringan dalam cicilan. Maka kita menyetujui program kredit tersebut! Apa kemudian yang terjadi? Sebelum lunas pembelian barang tersebut, kita sudah merasa bosan dengan HP tersebut karena sudah keluar HP yang lebih canggih lagi. Kita sudah tidak bangga lagi dengan hp kita! Lunas belum, bosan iya! inilah yang dunia tawarkan!
Kita jenuh dengan hidup kita , merasa sumpek, ingin refreshing, tapi uang tidak cukup, sekarang dunia menawarkan tour dengan cicilan, kita dapat tour dahulu, bayar dicicil, wah nikmat rasanya. Kita dihibur paling lama 2 minggu, selanjutnya menderita 36 bulan, inilah contoh-contoh yang dunia tawarkan.

Jelas sudah apa yang dunia tawarkan atau berikan semuanya bersifat sementara, berbeda dengan yang Tuhan Yesus berikan, pengampunan seumur hidup, kasih yang kekal, damai sejahtera yang selamanya. apa yang dunia tawarkan selalu nikmat diawalnya, merana diakhirnya, tetapi banyak manusia memilih ini, dari pada yang Tuhan Yesus tawarkan karena kita merasa sulit awalnya padahal nikmat selamanya.
Mengapa demikian? Karena sebenarnya kita belum benar - benar merasakan bahwa Roh Kudus ada di dalam diri kita. Kita katakan sulit mengikuti jalan Kristus, CS Lewis dalam salah satu bukunya menuliskan bahwa sebenarnya bukan sulit mengikuti jalan Kristus, melainkan ketidak mauan kita mengikutinya. Matius 11 ayat 29 Pikullah Kuk yang Kupasang dan belajarlah pada - Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. ayat 30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
Membaca firman ini maka saya mengerti apa yang CS Lewis tulis, dan sangat benar, bahwa mengikuti jalan Kristus itu tidak sulit hanya saja saya tidak mau! Saya memilih gengsi daripada rendah hati. Saya memilih sombong atau arogan daripada lemah lembut, akibatnya jiwa saya menjadi tidak tenang. Karena tidak tenang maka mencari penghiburan, penghiburan yang dunia tawarkan, maka makin terpuruklah diri saya ini.
Maukah kita mengikuti jalan Kristus?

Penentuan ay 30-31
(30) Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku. (31) Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini."

Pada akhir bacaan hari ini Yesus mengatakan penguasa dunia tidak berkuasa sedikitpun atas diri Yesus! Yesuslah pemenangnya. Kita sudah mendengar dan membaca mengenai kemenangan Kristus yaitu bangkit dari Maut.
1 Korintus 15:55 Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?
Ia mau disalibkan karena Ia mengasihi Bapa dan Ia melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada Nya!

Mohammad Ali sebelumnya bernama Cassius Marcellus Clay,jr asalnya seorang Kristen kemudian pindah agama yang kemudian mengganti namanya. Suatu waktu pernah diwawancari dan ditanyakan mengapa ia pindah agama? Ia katakan bahwa agama Kristen menjanjikan Kueh Pie nanti di Surga, sedangkan saya mengingininya sekarang!
Jadi jelas ia ingin nikmat sekarang selama masih hidup. Apakah memang benar demikian? Kebanyakan dari orang-orang yang mengaku beragama Kristen juga mempunyai pandangan yang mirip dengan pandangan Mohammad Ali, bahwa kita sebagai orang Kristen harus menderita, dan enaknya nanti ketika sudah mati.

Saya tidak setuju dengan pendangan demikian, pengikut Kristus harus menderita!  Enaknya nanti setelah mati, tidak masuk neraka melainkan masuk surga.
Mengapa saya tidak setuju? coba perhatikan bacaan hari ini yang mengatakan bahwa Yesus telah mengalahkan dunia, jadi bagaimana mungkin kita menikmati kue pie nya nanti? Sedangkan Yesus sang pemimpin hidup kita telah mengalahkan dunia!
Jadi pandangan orang Kristen enaknya nanti setelah mati disebabkan karena ketidak mengertian akan Firman Tuhan.

Marilah kita buktikan, tidak perlu dengan yang sulit-sulit. Coba kita datang kesebuah rumah sakit coba tengok pasiennya. Apakah yang sakit itu semuanya orang Kristen saja? Tidak bukan.
Jadi setiap orang, bangsa apapun, beragama apapun bisa sakit! Apakah ini bukan penderitaan? Jadi setiap manusia ada penderitaannya. Perbedaannya adalah ketika orang yang sakit itu benar-benar pengikut Kristus sejati, yang hidupnya tidak pernah lepas dari firman Allah, ia tetap merasakan Damai Sejahtera Tuhan. Bahkan ada beberapa kesaksian dari pengikut Kristus setia yang menderita sakit malah dapat menjadi Saksi Kristus ditengah orang - orang sakit lainnya, dan bisa membawa jiwa ditengah penderitaan sakitnya. Inilah yang membedakan, inilah kue pie yang diterima selama hidup di dunia ini, dan kue pie nya adalah kue pie dari Allah bukan kue pie Eaten, Bogor Permai atau yang lainnya.

Masih banyak bukti lainnya dalam kehidupan ini, yang intinya adalah tidak ada seorangpun yang tidak pernah merasakan penderitaan selama hidup di dunia, yang luput dari penderitaan. Bisa saja seseorang hidup bergelimang harta, tapi hatinya galau, karena menghadapi banyak persoalan. Sejak manusia jatuh kedalam dosa, maka tidak ada seorangpun yang luput dari persoalan dan penderitaan. Hanya pengikut sejati Kristus lah yang bisa merasakan Damai Sejahtera ditengah segala penderitaannya. Dan Damai Sejahtera ini masih melekat hingga di Surga nanti. Mohammad Ali mengejar kue pie yang dunia tawarkan dan membuang kue pie yang di surga, kita menikmati kue pie sekarang dan selamanya.

Kesimpulan:
Damai Sejahtera Tuhan bagi kita hanya dapat dirasakan selama hidup kita mengasihi Yesus dan menuruti kehendakNya!

Bogor 25 April 2015
Luki F. Hardian